Selamat Jalan Budayawan Sunda, Kang Ajip Rosidi.

Foto Sobur* | Innalillahi wainnaillaihi roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah Ajip Rosidi, seorang Budayawan, di RS Tidar Magelang  rabu  malam pkl. 22.30, Mohon dimaafkan segala kekhilafannya.

“Ngiring Belasungkawa, Mugia Almarhum ditampi amal ibadahnya, dihapunten sagala kalepatan nana, kenging tempat anu utami di Alam Kalanggengan”. (Ikut Berduka cita, Mudah-mudahan, Almarhum diterima Amal Ibadahnya, Dima’afkan segala kesalahannya dan Mendapat Tempat yang Utama di Alam Keabadian). 

Bandung  Raya gemmarakyat.com,– Saya mengenal almarhum kang Ajip Rosidi belum lama. Sekitar 15-16 tahun, ketika saya mengundang almarhum untuk bicara soal budaya bangsa di depan seluruh pegawai Bank Indonesia.

Ada beberapa kali BI mengundang beliau didampingi oleh pembicara-pembicara lainnya. Salah satu yang saya ingat adalah ketika almarhum bicara sebagai pembicara utama didampingi Herlina Supeli, Filsuf dari Univ. Driyarkara. Waktu itu almarhum masih menjadi Profesor di Jepang.

Saya adalah pengagum almarhum. Kagum karena karya-karya tulisannya yang bernas dan sangat banyak. Kekaguman saya bertambah setelah membaca otobiografinya yang berjudul “Hidup tanpa Ijasah”.

Almarhum adalah orang besar; Budayawan yang sulit mencari penggantinya; Ikon budaya masyarakat sunda: Lurus, tegar, berani adalah sikap hidup kesehariannya.

Terakhir ketemu beliau, sekitar 4 bulan yang lalu di esteler di kawasan blok M di Jakarta. Kami sering ketemu di situ sekedar untuk mengobrol. Pada pertemuan terakhir itu saya ingat dengan jelas beliau mengatakan “Akang deuk ka Pabelan heula. Deuk rada lila. Euceuna oge deuk ngilu eta oge asa geus beda rarasaan. Boa-boa!

Wilujeng angkat Kang, ka alam kalanggengan. Insya Allah almarhum khusnul khatimah.  Hapunten abdi teu kantos nepangan heula di Pabean” ( Akang mau ke pabean dulu, lumayan lama, kakak juga mau ikut sepertinya ada perasaan tidak enak, jadi khawatir !.  Selamat jalan kang, menuju alam abadi, In sya Allah, Almarhum Khusnul Khatimah) ,

Masih kata Burhanudin, “ Dina sababaraha taun terakhir ieu, kang Ajip sering ngajak kana kegiatan kasundaan. Taun 2011 Kang Ajip masihan waktos ka abdi kanggo biantara dina Kongres Internasional Budaya Sunda” (dalam beberapa tahun terakhir ini, Kang Ajip, mengajak dalam kegiatan kesundaan. Tahun 2011. Kang Ajip, memberikan kesempatan kepada kepada saya, memberikan sambutan di kongres  internasional budaya sunda)

Kantos  oge ngadegkeun majalah sasarengan. Malihan mah tahun 2019, ku usulan kang Ajip, sim kuring janten pupuhu Pusat Studi Sunda anu ngokolakeun Perpustakaan Ajip Rosidi di Jalan Garut, penerbitan buku2 sundalana, sareng kegiatan sanesna. Estuning salami 9 taun terakhir teh hubungan sim kuring sareng kang Ajip rada intens. (pernah juga mendirikan perusahaan majalah, malah pada tahun 2019, berdasarkan usulan, Kan Ajip, Saya di percaya memimimpin pust study sunda yang mengelola perpustakaan Ajip Rosidi, di jalan garut, penerbitan buku buku sunda, juga kegiatan lain. Secara, selama 9 tahun terakhir hubungan saya dengan, Kang Ajip, cukup intens).

Sim kuring ngarasa kaleungitan ku tokoh Budayawan/sastrawan, guru kahirupan, anu teges, jujur, pinuh ku wawanen. Kedahna kitu jigana urang sunda teh. (secara pribadi saya merasa kehilangan seorang tokoh budayawan/sastrawan, guru kehidupan, tegas, jujur penuh keberanian.  Seperti nya sebagai orang sunda harus seperti itu), Pungkas nya.**(Sobur*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *